Jodohku Masih Disimpan Tuhan

imageskkBarusan saya coba cek tulisan-tulisan saya di blog ini yang sudah-sudah lampau. Ada perasaan semacam “Wuh, sangar! Aku di masa muda bisa nulis kaya gitu.” Ada juga komentar semacam, “Idih, alay ya aku dulu, hoek!” Hahaaa.

Sebenarnya pengin, kapan-kapan nulis sebuah renungan setelah membaca novel, atau cerpen apa gitu. Untuk saat ini sepertinya belum bisa saya lakukan. Terlalu banyak hal mengganggu yang belum bisa saya uraikan. Em, untuk saat ini, akan saya penuhi dulu keinginan untuk membicarakan seputar: cinta dan jodoh. Baca lebih lanjut

Iklan

Haha Haha

Begitu melihat arsip, postingan saya bulan Agustus ini sejumlah: enam, rasanya ingin cepat-cepat mengubahnya menjadi angka yang lain. Maka, saya tulis postingan ini. Entah mengapa, dari dulu saya tidak pernah menyukai segala yang berbau angka enam. Em, kecuali kalau dikasih uang 6 M, baru suka! Hahaaa. Mohon maaf sebelumnya, untuk para pemilik angka itu atau para penyuka angka tersebut. Saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung bahkan memprovokatori. Damai.

Ini postingan bisa jadi geje banget gegara alasan tidak masuk akal di atas. Yah, mau bagaimana lagi, hidup itu kan pilihan. Untuk yang satu ini aku memilih tidak suka. Bukankah selera masing-masing orang juga berbeda? Dan masing-masing orang memiliki hak untuk memilih 🙂 Seperti misalnya, aku memilih untuk jomblo, bukan karena nggak laku-laku, tapi emang karena pilihan. Cia cia cia! :p
Untuk posting seputar cinta, jodoh, dan jomblo, kapan-kapan akan saya coba 🙂 Sebenarnya banyak cerita, banyak cerita teman juga, tapi mau mengemasnya yang belum siap, soalnya ini sensitif banget. Hahaaa. Oke, selamat malam, selamat istirahat.

Malas!

Maaf bloggy, beberapa hari mulai muncul penyakit lawas: malas. Tiga hari tanpa menulis, kecuali menulis sms balasan untuk ucapan lebaran teman-teman. Setidaknya, selama aku belum bisa rajin membaca, aku mau bersungguh-sungguh untuk belajar rajin menulis, menuliskan hal-hal yang dekat denganku dulu.

Tiga hari berlalu dengan aktivitas ala-ala lebaran gitu. Hari pertama: sholat id, ke makam, sungkem keluarga, sungkem keluarga besar di rumah Aput se-anak cucu (simbah dari ibu), Mbah Put se-anak cucu (simbah dari bapak), dan Simbok Buyut, ujung ke rumah tetangga yang dituakan sekampung, ujung ke sodara-sodara di kampung sebelah, pulang-tidur. Hari kedua: piket bantu persiapan tuan rumah di rumah Aput, masih ujung ke Baca lebih lanjut

Selamat Menjemput Fitrah, Teman!

Alhamdulillah 🙂

Setelah ikut geger menyaksikan sidang isbat, akhirnya Bapak Menteri Agama Suyadharma Ali memutuskan Idul Fitri 1434 H jatuh pada 8 Agustus 2013. Semoga ukhuwah islamiyah umat muslim Indonesia semakin baik ke depannya. Sujud syukur, air mata berlinang mendengar gema takbir dari seluruh penjuru mata angin. Rasanya benar-benar menjemput kemenangan. Allahu Akbar!

Minal ‘Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin atas semua prasangka dan khilaf saya selama satu tahun ini, baik yang disengaja maupun yang keceplosan tidak disengaja. Semoga tahun depan masih diperkenankan menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan ketemu lebaran lagi. Aamiin.

Untuk lokasi perayaan lebaran tahun ini, masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya stay di kampung tanpa mudik. Lah, mau mudik kemana, simbah saya, simbah buyut saya, pakdhe-budhe saya, paklik-bulik saya,  saudara-saudara semoyang saya, sekampung semua, hehee. Walau begitu, saya selalu Baca lebih lanjut

Ini Ramadhanku, mana Ramadhanmu?

2012Aku bagaikan sekeping logam dingin, kesepian. Dari arah utara rumah terdengar gema “aamiin” para jamaah masjid yang merayakan shalat tarawih terakhir di Ramadhan 1434 H. Juga, di ruang tamu rumah, yang sebulan ini dipakai untuk shalat jamaah anak-anak kecil, menggema pula “aamiin” dari mulut-mulut mungil mereka. Sementara itu, aku di kamar, sendiri, tidak bisa ikut merayakannya. Sebenarnya ada perasaan sedikit kecewa melewatkan momen-momen ibadah di bulan yang penuh rahmat ini, apalagi bagi seorang hamba hina sepertiku.

Sudah, sudah, hidup kok dilihat dari sisi negative mulu. Lanjut kisah lain, ah!
Selepas libur kkn-ppl di sekolah, sesegera mungkin timku mencari peluang libur untuk kkn masyarakat. Alhasil, mulai tanggal 3 Agustus 2013 sampai 13 Agustus 2013 bisa bebas dari kata-kata urip mati nggo kkn-ppl. Hahaaa. Di liburan ini, banyak sekali undangan buka bersama dan kumpul-kumpul dengan teman lama. Beberapa target untuk buber mesra dengan sahabat-sahabat dekat terlaksana, selebihnya tersisa Baca lebih lanjut

Ketemu Konco Kenthel

27963_1251570943939_1669470929_595140_2150065_nAku nggak pernah mempermasalahkan, apakah tulisanku di blog ini ada yang baca atau tidak. Bagiku, bisa menulis itu sudah jadi kepuasan yang Masyaallah banget!

Hari ini, seperti biasa masih dengan hidup yang indah. Aku baru sadar, kalau aku punya banyak kesempatan untuk membahagiakan orang lain, salah satu caranya dengan “mengalah”. Aku juga baru tahu, bahwa setiap individu punya kepekaan sendiri-sendiri akan arti pentingnya pertemanan.

Sore ini, agenda rutin tahunan terlaksana lancar. Bisa kumpul-kumpul dengan (perwakilan) alumni TKJ Stemsa 2010. Selalu ada bahagia yang tak terungkap ketika aku bisa menjalin silaturahmi dengan teman lama. Pun, kita juga banyak bertukar cerita. Sebenarnya semuanya sederhana, cuma aku kadang agak lebay dengan hal-hal kecil. Semacam pertemuan singkat seperti ini. Dari tukar-tukar cerita itu, aku tahu beberapa teman sudah mulai melebarkan sayap, kuliah sembari kerja, kuliah dan buka usaha, ada yang sudah kerja, ada yang PNS, ada yang sebentar lagi wisuda, dll. Haha itu semua membuat aku ikut tersenyum bahagia.

Sejatinya, pertemanan adalah pertemanan, bahkan ketika kamu sibuk, pertemanan adalah tetap pertemanan.

Aku, Senja, dan Sebuah Pelajaran

Sejak mengenal puisi, aku jadi sering ketemu sama “senja”. Diksi yang satu itu kerap banget dipakai sama penyair-penyair. Entah, aku juga nggak paham apa alasannya. Mungkin, memang dari sisi good looking-nya ya. Secara, senja emang cantik, bukan begitu? 🙂

Antara aku dan senja kali ini,  tidak jauh beda dengan senja yang sebelum-sebelumnya. Hanya saja, tadi itu aku mendapatkan satu pelajaran hidup berharga. Em, kalau boleh, akan aku buatkan cerita fiktifnya seperti di bawah ini.

Matahari baru saja menuju peraduannya, sinar senja berhias aroma buka puasa. Jam dinding menunjukkan pukul 17. 05 WIB. Riuh anak-anak menunggu waktu berbuka sembari melempar-lempar petasan, dar! cedar! cethar! Suasana Ramadhan di desa memang indah, kesannya lebih damai dan harmonis dibandingkan di perkotaan yang  macet.

Sementara itu, Mbok Yem masih saja sibuk dengan urusan mencari nafkah. Bukannya menyiapkan menu berbuka puasa, ia justru sibuk menata salak-salak dari tenggok ke keranjang. Baca lebih lanjut