Hari Ibu untuk Ibu dan Ayah

Hari ini 22 Desember 2011, semua orang sepakat bahwa hari ini adalah hari Ibu. Ya, hari bagi seseorang yang tentu sangat istimewa bagi kita semua. Dialah Ibu sosok pahlawan yang sebenarnya, dialah Ibu yang tanpanya kita tentu tak dapat menyaksikan indahnya alam raya. Seberapa berharganya sosok Ibu dalam kehidupan kita tentu tak akan mampu dituliskan dalam selembar kertas kosong, seberapa berharganya sosok Ibu dalam kehidupan kita tentu tak akan mampu digambarkan hanya dalam sebuah lukisan.
Terbayang di anganku, dulu ketika Tuhan titipkan nyawa kecilku di rahim Ibu. Tentu Ibuku tak dapat melakukan protes pada Tuhan bahwa dia tidak menghendaki aku, dia terima kehadiranku sembari terus mengucap syukur pada-NYA. Ibu dengan sabar dan ikhlas merawat aku bahkan sebelum dia mampu melihat sosokku, apakah rupawan ataukah aku terlahir cacat. Tak terhitung berapa besar pengorbanan yang dia lakukan selama aku hidup di dalam rahimnya, tentu saja sangat menyesakkan. Sehari-harinya dia lantunkan dzikir, dimintakan keselamatanku pada Tuhan, dielus lembut perutnya dan berkata “ Nak, lahirlah kelak kau di dunia menjadi anak yang shaleh agar kau dapat mengantarkan ayah ibumu ini ke surga” dan air matanya pun berlinang. Besar harapan Ibu tertumpu pada aku si jabang bayi ini.
Ketika aku telah dilahirkan, tak terbayangkan betapa orang tuaku mensyukuri kehadiranku, dilantunkan adzan di telingaku dan Ibu berkata “ Nak, inilah dunia yang telah lama menanti hadirmu, aku rela mempertaruhkan semua yang aku miliki untuk kebahagiaanmu di sini”. Dan hari terus berganti, tak kurang sedikitpun kasih sayang yang Ibu berikan padaku. Saat aku sakit ibu ikut merasakan, air matanya tidak dapat ditahan, selalu mengalir seperti hujan ikut merasakan penderitaan yang aku rasakan.
Sekarang, aku sudah tumbuh dewasa. Masih saja tak kurang sedikitpun kebahagiaan yang Ibu hadirkan untukku. Saat ini ketika aku sudah tahu pahit manisnya kehidupan, ketika aku sudah tahu ganasnya alam menyiksa batinku, tangan Ibulah yang selalu datang membelaiku. Tangan yang masih terasa halus walau keriput wajah Ibu terbayang di depanku, tangan inilah yang selalu hadir membawa efek positif yang menguatkan sendi-sendiku untuk kembali bangkit menatap hari esok dengan penuh semangat walau seberat apapun hidup yang akan kujalani. Ibulah motivasi terbesar dalam hidupku.
Sementara aku menyanjung-nyanjung ibuku, aku ingat bayangan Ayah. Lelaki yang sangat setia dan sempurna melimpahiku dengan kasih sayang serta pengajaran. Setiap tetes keringat beliau adalah penghapus dahagaku. Ayah, 22 Desember adalah hari ibu, namun hari-hari selain 22 Desesmber itu semua harimu. Sembah bhakti untuk Ayah dan Ibu, dari putrimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s