Membentang lara, tak terungkap. . .

Angin malam lembut menusuk hingga pori-pori, dinginnya terus menusuk hingga hatiku ikut merasakan beku-dingin tanpa rasa. Hari ini, di sini, aku mendapati sosokku sendiri yang terbaring kaku merayakan kekalahan dan kegetiran yang luar biasa menikam jantung, meremukkan hati, menyayat sembilu dagingku, tulangku lunglai dan tak kuasa lagi menegakkan badan, tawaku sirna, mataku mengalirkan air dingin yang terus mengikuti arusnya berkelok melewati pipi yang gembul dan terus mengalir di samping gundukan hidung hingga akhirnya terjatuh setelah sukses melewati daguku. Aku benar-benar sedang dalam keadaan terpuruk sejadi-jadinya malam ini, rasanya seluruh isi alam raya sekongkol menjauh tanpa mau menemaniku merayakan lara hati ini.

Aku memekik sekencangnya, berteriak-teriak sekuat aku bisa sampai terasa pita suaraku seakan memprotes dan tak mau keluar lagi sedikit suara pun dari mulutku, aku mengguling-gulingkan badanku, membenturkan dahiku di pojokan dinding hingga aku bisa merasakan asin darah yang keluar darinya. Tak berhenti sampai di situ, aku ambil silet dan mulai menyayatkannya ke daging-dagingku yang empuk. Pertama-tama aku sisir alisku dengan silet itu, tajamnya terasa sakit menggores pangkal alis, tapi aku terus melanjutkannya. Kugunduli alis kananku dan menikmati rambutnya berjatuhan di lantai, kuperhatikan sebentar lalu aku ambil kaca spion dan melihat alis kananku kini berubah menjadi warna merah dengan tetes-tetes yang terus-menerus mengalir menutupi mata kananku. Lalu kulanjutkan alis kiriku dengan perlakuan yang sama, dan sempurnalah aku menghabisi nyawa alis yang tebal-tebal itu dan merasakan sedikit sakit di kedua bagian itu. Darah mengalir dari kedua muara tersebut. Untuk selanjutnya, yang kedua aku tempelkan silet yang jadi bau amis itu di pipiku, dengan tekanan lembut kugambari pipiku dengan pola garis-garis vertical yang italic mulai dari pipi kanan terus berlanjut melewati hidung dan sampai di penghabisan pipi kiriku. Bau amis semakin meracuni penciumanku, untunglah hidungku tidak cuil aku takut kalau tidak bisa bernafas lantaran hidungku cuil dan lubangnya tambah lebar sehingga aku bisa menghirup kerikil tewat hidung. Aku merasa sedikit puas dengan perlakuan ini. Kuurungkan niat untuk melucuti pakaianku dan menyayat semua bagian tubuhku. Rasanya cukup di wajah saja dan aku telah merasakan kepuasan yang membuncah.

Aku sedikit lupa pada apa yang sedang kurasakan. Kuusap mukaku dengan kedua telapak tangan, kujilat telapak tanganku dan merasakan kenikmatan darah yang segar sampai di kerongkonganku. Aku akan selalu ketagihan dengan aroma dan rasa darah segar milikku sendiri ini, lezat dan hangatnya seperti mampu menjadi penawar luka hatiku. Untuk beberapa menit aku dapat melupakan rasa getir yang melanda jiwaku, tapi kini setelah darah membeku dan aku merasa kesepian, tak dapat lagi aku membendung air mata yang terus meleleh turun membasahi pipi, menyisakan rasa perih pada bekas-bekas luka sayatan tadi. Nyeri. Kuremas jari-jari tanganku, berusaha menguatkan diri agar mampu menata kembali pikiran dan kembali ke akar permasalahan yang sedang aku hadapi. Setelah susah payah aku berusaha menenangkan diri, akhirnya terbayar tunai usahaku itu. Aku kembali merasakan ada bayang-bayang alur akan suatu peristiwa yang tergambar samar. Ya, itu adalah awal cerita yang berakhir pada pengakuanku bahwa tak ada satu pun dari seisi alam ini yang menyambut baik akan diriku. Yah, atau aku yang merasa terkucilkan dengan masalah yang tak henti-hentinya menghujamku ini, entahlah. Rasaku aku bukan manusia yang ngeri yang pantas dijauhi, hanya saja aku sangat tertantang untuk berbuat yang tak manusiawi karena aku bisa merasakan kepuasan yang tiada tergambarkan untuk melakukannya. Aku manusia normal, hanya kadang tingkahku yang tak normal di mata orang-orang yang merasa dirinya normal. Hatiku normal, pikiranku normal, jasmaniku normal sama seperti yang orang-orang awam miliki. Ah, entahlah kenapa jadi ngelantur.

Untuk alur yang membuatku nanar kali ini, panjang sekali ceritanya. Tak akan habis lembaran-lembaran kosong kertas yang tersedia menumpuk di depan pandanganku ini. Aku enggan, sangat enggan menceritakannya pada kertas itu. Aku butuh teman ? ? Tidak!!!! Aku hanya mau ada sesuatu di sisiku kali ini, menemaniku menghabiskan sisa-sisa kegetiran yang sangat pedih kurasakan sembari menikmati tegukan darah segar dariku lagi karena aku baru saja memotong habis dua puluh jari kakiku dan kali ini bau darahnya lebih menggoda. . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s