Wajah Pendosa . . .

Tuhan, dia kembali datang pada-Mu senja ini tanpa perasaan malu-malu dan ragu. Dia kembali datang pada-Mu untuk memamerkan tumpukan-tumpukan dosa yang telah lama dia koleksi seiring bergulirnya hari menikmati segarnya hirupan nafas dan langkah-langkah kaki yang setiap hari membawanya pergi memutari alam raya ini. Tuhan, sungguh aku merasa kesal setiap kali melihat dia datang pada-Mu untuk menunjukkan tumpukan-tumpukan dosa yang selalu terulang dan terulang lagi. Aku sangat-sangat membenci dirinya. Tidakkah begitu yang Kau rasakan Tuhan ? ?

Kenapa Tuhan ? Kenapa masih kau izinkan dia datang lagi kepada-Mu setelah janji-janjinya yang hanya bualan di depan-Mu. Kenapa Engkau masih berikan dia nikmat seperti orang-orang lain yang jauh lebih baik dari dia ? Tuhan, tidakkah Engkau salah memberikan keputusan yang sangat menguntungkan dirinya ? tidakkah Engkau sadari bahwa dia tidak pantas mendapatkan semua perlakuan baik-Mu ini ?

Kuceritakan pada-Mu Tuhan, dia itu tidak bisa menghargai dirinya sendiri. Dia siksa diri dengan hal-hal yang merusak akhlak dan juga jasmaninya. Dia tidak pernah membanggakan dirinya sendiri karena telah Kau ciptakan di dunia yang bergelimang kenikmatan ini. Dia terus dan terus menyiksa diri, menenggak kenyataan akan segala kurang yang dia miliki. Dia terus saja menyayat percaya dirinya hingga tak tersisa sedikitpun darah cintanya pada dirinya sendiri. Dia mematikan karakternya sendiri, dia merendahkan martabatnya sendiri, dia memungkiri hal-hal baik yang dimiliki dirinya, dia membunuh semangat-semangat jiwanya.

Kuberitahu Kau Tuhan, dia itu tak lebih dari sampah. Ke utara tidak diterima, ke barat tidak diharapkan, ke selatan tidak diacuhkan sedang ke timur dia tidak dihiraukan. Tidak ada yang memuliakan dia kemana pun dia pergi. Mungkin dia frustrasi dengan perlakuan semua orang padanya hingga dia sekarang menjadi seperti ini. Tuhan, tidak salah kana pa yang orang-orang lakukan ? Dia sendiri saja tidak bisa menghargai dirinya, mana mungkin orang lain mau memandangnya tak sebelah mata. Hanya saja dia tak pernah sekalipun menyadari akar masalah kenapa orang-orang sampai memperlakukannya seperti itu. Dia tak pernah sebentar pun merenung dan berusaha mengoreksi dirinya sendiri.

Tuhan, jiwanya layu. Lontang-lantung dia melangkah sepertinya tak ada gunanya. Dia itu menutupi dzalim atas dirinya, dia itu membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya, dia itu membisu untuk mengatakan kebenaran, dia itu munafik, dia itu pendosa!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s