Sebuah lamunan singkat . . .

Teringat sesuatu saat mengubrek isi kepala. Seseorang yang tentu sangat istimewa bagi kita semua. Dialah Ibu sosok pahlawan yang sebenarnya, dialah Ibu yang tanpanya kita tentu tak dapat menyaksikan indahnya alam raya. Seberapa berharganya sosok Ibu dalam kehidupan kita tentu tak akan mampu dituliskan dalam selembar kertas kosong, seberapa berharganya sosok Ibu dalam kehidupan kita tentu tak akan mampu digambarkan hanya dalam sebuah lukisan. Dan hadir pula sosok bapak yang kini tak muda lagi. Hmm,

Terbayang di anganku, dulu ketika Tuhan titipkan nyawa kecilku di rahim Ibu. Tentu Ibuku tak dapat melakukan protes pada Tuhan bahwa Baca lebih lanjut

Iklan

Kata “Anna” di Ayat-ayat cinta

Kau mencintaiku seperti bunga mencintai titah Tuhannya

Tak pernah lelah menebar mekar aroma bahagia

Tak pernah lelah meneduhkan gelisah nyala

Kau mencintaiku seperti matahari mencintai titah Tuhannya

Tak pernah lelah membagi cerah cahaya

Tak pernah lelah menghangatkan jiwa

Sekalipun cinta telah kuuraikan

Dan kujelaskan panjang lebar

Namun jika cinta kudatangi

Aku jadi malu

Pada keteranganku sendiri

Meskipun lidahku telah mampu menguraikan

Namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang

Sementara pena

Begitu tergesa-gesa menuliskan

Kata-kata pecah berkeping-keping

Begitu sampai pada cinta

Dalam menguraikan cinta

Akal terbaring tak berdaya

Bagaikan keledai berbaring dalam lumpur