MENGGAPAI ASA, ANAK NUSA TENGGARA

Namaku Sanusi Abdullah Siba Hurek, dan panggil saja aku Siba. Aku asli keturunan Nusa Tenggara. Ayahku dari Flores dan ibuku dari Lombok. Kini keluarga kami tinggal di desa terpencil di daerah Lembata. Tentu aku bukan anak satu-satunya dari orangtuaku. Ayahku menikah dengan ibu sekitar 25 tahun yang lalu dan mereka dikaruniai lima orang anak. Aku punya satu kakak perempuan dan tiga adik yang masih kecil-kecil. Tentu menjadi hal yang biasa di daerahku ini para warganya memiliki banyak keturunan. Ya, mungkin karena sosialisasi tentang keluarga berencana sangat sulit didapat di sini karena akses ke desa kami sangat sulit. Kakakku, Siri Hurek sudah menikah di usia muda, setelah lulus SMP dia dijodohkan dengan anak ayah di Sumbawa dan kini dia tinggal bersama suaminya di sana. Sementara tiga adikku, mereka masih sangat kecil. Usia mereka hanya terpaut satu tahun. Adikku yang paling besar, Tuto Hurek usianya kini empat tahun, adik kedua, Kia Hurek tiga tahun dan si bungsu Anit Hurek berusia dua tahun. Keluarga kami seluruhnya berjumlah tujuh orang.

Jangan dikata hidup di pulau timur Indonesia yang tanahnya kaya raya ini rakyatnya hidup sejahtera. Kami rakyat Nusa Tenggara asli tak lebih hanya sekedar hidup seperti buruh. Kami layaknya tikus yang kelaparan di lumbung padi. Umumnya masyarakat daerah tempatku tinggal bermata pencaharian sebagai tukang pembelah batu bangunan seperti Amaq Raye, Amaq Marni dan Amaq Wingki. Bukan sebuah mata pencaharian tepatnya, karena hasil yang didapat dari pekerjaan ini tak seberapa, tak akan cukup untuk mensejahterakan hidup keluarga. Ayahku juga memiliki pekerjaan yang sama, tapi lebih menggembirakan sedikit karena ayah punya sedikit tanah garapan. Sementara ibu, hari-hari beliau disibukkan dengan mengasuh tiga orang adikku yang masih kecil-kecil itu.

Kesejahteraan masyarakat di sini tidak terjamin dari pemerintah. Kami dibiarkan hidup mandiri dengan segala keterbatasan dan keterbelakangan akses terhadap perkembangan zaman. Jika kami tahu perkembangan pesat informasi dan komunikasi di ibu kota, itu kami sebatas tahu bahwa karena ibu kota itu ramai. Kami acuh dengan semua yang terjadi di luar sana, karena sudah tertanam di benak kami bahwa hidup kami akan berlanjut dengan usaha kami sendiri. Biarlah kami tak menikmati manisnya zaman modern, asal keturunan kami masih mampu bertahan hidup dalam keterbatasan. Umumnya masyarakat di sini berfikir seperti itu sehingga kesengsaraan kami tak terangkat sampai saat ini. Mereka katak dalam tempurung, tak pernah tahu dan tak mau maju mengikuti daerah lain di luar sana.

Usiaku sekarang 18 tahun. Aku sangat bersyukur karena ayah mengizinkan aku menempuh sekolah sampai di bangku SMA, setidaknya tak seperti kakakku. Alasan yang diberikan ayah  hanya satu, karena aku anak laki-laki satu-satunya yang beliau miliki. Ayahku sedikit berfikir lebih maju dibandingkan kaum laki-laki sebayanya. Beliau sedikit banyak tahu pentingnya menuntut ilmu di era kemajuan saat ini. Ayah mendukung semua usahaku untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, karena beliau juga tahu motivasi belajarku yang besar. Aku tak pernah merasa terkekang dengan keterbatasan fasilitas pendidikan di daerahku ini. Saat ibu kota mampu menyuguhkan internet, maka aku harus menunggu mobil perpustakaan keliling dari pemerintah untuk menambah ilmu. Saat ibu kota menawarkan berbagai kelengkapan belajar-mengajar, maka aku bersyukur dianugrahi seorang guru yang bijaksana di kelas. Dari beliau saja saya mengetahui hal-hal baru.

“Pemerintah berbaik hati pada sekolah kita. Kita diperkenankan mewakilkan lima siswa untuk ikut seleksi beasiswa kerjasama pemerintah dengan salah satu universitas di Yogyakarta. Apa ada yang berminat ?” Kata Pak Dorbi, guru kelasku sebelum memulai pelajaran pagi ini. Kulihat sekeliling, tak ada satupun temanku yang mengacungkan tangannya menanggapi pertanyaan Pak Dorbi. Hatiku bergejolak, rasanya aku masih ingin melanjutkan pendidikan di kota pelajar itu, apalagi selama ini tak satupun ada pemuda Nusa Tenggara di daerahku yang berstatus mahasiswa. Dengan lantang langsung ku acungkan tanganku, pertanda berminat mengikuti program beasiswa tersebut. Dan benar, hanya aku satu-satunya yang menginginkan bangku kuliah. Di rumah, kuceritakan semua hal istimewa tadi di sekolah pada ayah. Ayahku tersenyum bahagia ketika aku menceritakan beasiswa itu padanya. Hari-hari berikutnya, aku mulai disibukkan dengan belajar dan persiapan-persiapan test beasiswa kerjasama tersebut. Dalam benakku, motivasi yang begitu besar, semangat yang membara berapi-api dari dalam dada bahwa aku benar-benar ingin merasakan bangku kuliah demi satu tujuan, memperbaiki taraf hidup masyarakat di sekitarku.

Beberapa hari setelah itu, tinggal doa dan harapan yang mampu kulantunkan untuk meneriakkan keinginan besarku menyandang status “Mahasiswa” di kota pelajar, Yogyakarta. Setiap hari kupanjatkan doa pada Yang Kuasa, niatku untuk kuliah hanya untuk bumi Nusa Tenggaraku tercinta ini.

Dan pengumuman yang sudah lama aku tunggu, Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Di sanalah aku mendapat kesempatan memulai hari-hari kuliahku. “ Tak sia-sia aku membiarkan kamu menikmati nafas pendidikan bahkan sampai ke negeri Cina, asal niatmu mendapat pendidikan adalah untuk membentangkan paham-paham hidup bermasyarakat yang baru dan mengentaskan perubahan untuk masyarakat terpencil Nusa Tenggara ini Nak.” Kata ayah menyemangatiku. “ Tentu Ayah, aku tak akan pernah melupakan darimana aku berasal. Kacang tak akan lupa pada kulitnya. Semangatku, semangat bermimpi dan meraih asa anak Nusa Tenggara!!!” Kataku tegas. Ya, karena aku anak Nusa Tenggara, terus berjuang untuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s