HONAI, SENI DAN BUDAYA INDONESIA DARI PAPUA

Papua, pulau timur di Indonesia yang memiliki beraneka ragam keunikan dan budaya yang khas. Seni, budaya dan tradisi yang berkembang di sana masih begitu kental tanpa campur tangan modernisasi dan pengembangan dari masyarakat luar. Selain itu, Papua juga mampu menyuguhkan kemolekannya melalui beberapa tempat wisata yang ada di sana. Indonesia wajib berbangga memiliki pulau Papua yang mampu melengkapi deretan pulau-pulau Indonesia yang unik, khas dan memiliki beragam budaya yang mengakar di sana.

Berbicara tentang Papua, tentu pikiran kita terbersit dengan satu nama rumah adat di sana yang terkenal uniknya. Ya, Honai. Rumah Honai adalah rumah adat Papua yang terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai dibangun sempit dan tidak berjendela untuk menahan hawa dingin pegunungan papua masuk ke dalam rumah. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam 3 tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei) dan untuk kandang babi (disebut warnai).

Selain rumah adatnya, Papua juga memiliki sejumlah kebudayaan yang melengkapi Bhineka Tunggal Ika seperti tarian daerah, alat music daerah, lagu daerah, pakaian adat dan banyak budaya lain yang tumbuh di sana. Tarian Papua merupakan Baca lebih lanjut

Iklan

MENGGAPAI ASA, ANAK NUSA TENGGARA

Namaku Sanusi Abdullah Siba Hurek, dan panggil saja aku Siba. Aku asli keturunan Nusa Tenggara. Ayahku dari Flores dan ibuku dari Lombok. Kini keluarga kami tinggal di desa terpencil di daerah Lembata. Tentu aku bukan anak satu-satunya dari orangtuaku. Ayahku menikah dengan ibu sekitar 25 tahun yang lalu dan mereka dikaruniai lima orang anak. Aku punya satu kakak perempuan dan tiga adik yang masih kecil-kecil. Tentu menjadi hal yang biasa di daerahku ini para warganya memiliki banyak keturunan. Ya, mungkin karena sosialisasi tentang keluarga berencana sangat sulit didapat di sini karena akses ke desa kami sangat sulit. Kakakku, Siri Hurek sudah menikah di usia muda, setelah lulus SMP dia dijodohkan dengan anak ayah di Sumbawa dan kini dia tinggal bersama suaminya di sana. Sementara tiga adikku, mereka masih sangat kecil. Usia mereka hanya terpaut satu tahun. Adikku yang paling besar, Tuto Hurek usianya kini empat tahun, adik kedua, Kia Hurek tiga tahun dan si bungsu Anit Hurek berusia dua tahun. Keluarga kami seluruhnya berjumlah tujuh orang.

Jangan dikata hidup di pulau timur Indonesia yang tanahnya kaya raya ini rakyatnya hidup sejahtera. Kami rakyat Nusa Tenggara asli tak lebih hanya sekedar hidup seperti Baca lebih lanjut