Selamat Datang di Kolam ikanasinn

Layaknya Albus Dumbledore yang menuang isi pikirannya pada pensieve, saya pun ingin menuangkan ingatan saya pada blog ini. Sekedar untuk mengarsip kenangan.

Saya selalu mengagumi kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Saya sering membayangkan, Pram mengelus lembut kening saya, sembari berucap, “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Dan, saya tersenyum, merasa seluruh alam mendukung pekerjaan mulia ini, belajar menulis, belajar mencipta keabadian.

Berangkat

Berangkat (lagi). Seperti persinggahan sebelumnya, aku pulang, lalu berangkat pergi. Kali ini, dengan rute yang berbeda, dengan pertemuan-pertemuan baru, dan dengan rasa yang berbeda. Tetapi, rinduku tetap bermuara pada orang-orang yang sama.

Elegi Akhir Pekan

Akhir pekan, layaknya lolipop: manis. Setidaknya, banyak hal yang jauh-jauh hari direncanakan di hari lolipop itu. Misalnya, berlibur ke rumah nenek, ikut ibu berbelanja di pasar, atau pergi ke toko buku dengan ayah. Manis, bukan. Intinya, hari itu adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu.

Hm, agaknya hari lolipop kini hanya milik kanak-kanak. Sebab, orang dewasa selalu menghitung manisnya hari dengan takaran-takaran. Beberapa menakar dengan uang, beberapa yang lain menakar dengan peluang. Lalu, hilanglah kemanisan hari itu dari kehidupan orang dewasa.

Rindu (ku)

Terkadang rinduku terlalu dalam, seperti bebintangan yang selalu mendamba kelam. Rinduku begitu rusuh, membuat semuanya menjadi kisruh. Rinduku gelisah, seperti kering yang menanti basah. Jika begini terus-terusan, aku takut menjadi payah. Beri aku celah. Atau sedikit waktu untuk rebah. Biar kutemukan di mana sejatinya muaraku berpasrah. Menentukan arah, bukan mencari salah.

 

Bisu

Percakapan-percakapan adalah bibir bagi tubuh kasih kita. Dia mengucap apa yang semestinya kusampaikan sebagai bagian dari keseharian. Sementara yang tak pernah terucap, adalah kegelisahan rinduku padamu. Ia bisu.

Jarak

Seorang teman pernah berkata padaku, “Jarak membuat cinta menjadi semu.” Mungkin, karena dia sudah terlalu lama berpisah jarak dengan kekasihnya. Berpisah jarak tak selamanya membuat sepasang kekasih berjarak, bukan begitu? Terkadang, jaraklah yang menguatkan hasrat untuk lebih erat mendekap cinta. Jarak yang memahamkan makna dari memupuk rindu. Dan, jarak juga yang menuntun mulut untuk terus membisik doa.

Bagaimana dengan kita, Kekasihku?

Pergi (lagi)

Semua berlalu begitu cepat, dalam hitungan hari yang terus mengerucut hingga sisa hitungan jam saja. Semua perantau paham, bagaimana rasanya meninggalkan kampung halaman. Tapi, beginilah hidup: kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Hati selalu tentram di rumah orang tua, di tanah kelahiran. Tapi, katak dalam tempurung pun pasti ingin keluar melihat dunia. Terlalu mudah hidup jika hanya merasa yang nyaman-nyaman saja. Terkadang kita butuh jatuh untuk tahu bagaimana nikmatnya berdiri. Pun kita butuh salah untuk tahu bagaimana nikmatnya belajar. Ya. Seperti katanya, “Kamu salah, lalu seolah kamu ingin salahmu itu dibenarkan. Kamu sesali masa lalumu, kamu salahkan dirimu sendiri. Bukan, bukan begitu. Kamu salah, lalu kamu menyadari kesalahanmu. Selanjutnya kamu berjanji tidak mengulanginya dan mau belajar dari kesalahan itu. Itu yang benar.” Ah, sering pergi pun nyatanya belum bisa membuatku cukup bijak dan dewasa.

Ia…

9 tahun, dan baginya aku masihlah gadis sederhana yang sedari dulu dikenalnya. Mungkin, beberapa perubahan saja, seperti usiaku yang menua, kegelisahanku yang mendera, dan fokus-fokus hidupku yang mulai bercabang. Oh, banyak perubahan rupanya. Tapi, tidak dengan hatinya, tidak ada yang berubah. Ia teguh, mengabadikan perasaannya kepadaku yang tersimpan sejak tahun-tahun pertama perkenalannya denganku.

Selalu saja ada kejutan di antara pertemuan-pertemuan singkat kita. Mungkin, begitu indahnya takdir Tuhan. Kami, tepatnya ia, datang kepadaku setiap kali aku terjatuh. Entah dari mana dan bagaimana ia tahu, selalu saja ketika aku berada di saat-saat paling kacau dalam hidupku, ia datang. Ia, menawarkan tangannya untuk merengkuhku kembali berdiri, untuk membuatku menyadari betapa berharganya aku, dan segera menyingkirkan pikiran negatif pada orang yang membuatku terperosok begitu dalam pada lubang nestapa itu. Ia tak pernah menyuruhku mengikuti apa maunya, tapi tanpa perlu analisis mendalam pun, semua yang ia katakan adalah kebaikan: maafkan, lupakan, dan bangkitlah!

Rasanya, terlalu bodoh selama ini menganggap diriku payah, sedangkan Tuhan memberi keberuntungan begitu besar padaku. Memilikinya dalam hidupku, tentunya satu keberuntungan besar. Hanya saja, selama ini mataku terlalu buta.
IGN