Selamat Datang di Kolam ikanasinn

Layaknya Albus Dumbledore yang menuang isi pikirannya pada pensieve, saya pun ingin menuangkan ingatan saya pada blog ini. Sekedar untuk mengarsip kenangan.

Saya selalu mengagumi kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Saya sering membayangkan, Pram mengelus lembut kening saya, sembari berucap, “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Dan, saya tersenyum, merasa seluruh alam mendukung pekerjaan mulia ini, belajar menulis, belajar mencipta keabadian.

Kembali Pulang dan Kenangan-Kenangan

Senangnya merantau itu, selalu ada kata “pulang” sebagai ajimat. Dan, pada akhirnya, saya memilih “pulang dulu” setelah tiga tahun terakhir wira-wiri SM-3T dan PPG. Pulang dulu, karena insyaallah perjalanan akan saya lanjutkan di GGD Jilid III.

Karena judul postingnya Kembali Pulang dan Kenangan-Kenangan, maka saya akan bercerita sedikit perjalanan selama tiga tahun terakhir ini.

#1
SM-3T penempatan di Kabupaten Kepulauan Aru. Lokasi pertama di Desa Nafar, mengajar di SMP N 12 Terpadu Nafar. Desa ini sekitar dua jam perjalanan laut dari Kota Dobo. Nafar merupakan desa penghasil sopi (minuman keras dari nira kelapa) terbesar di Kepulauan Aru. Di Nafar, tidak ada listrik, sinyal Baca lebih lanjut

Berangkat

Berangkat (lagi). Seperti persinggahan sebelumnya, aku pulang, lalu berangkat pergi. Kali ini, dengan rute yang berbeda, dengan pertemuan-pertemuan baru, dan dengan rasa yang berbeda. Tetapi, rinduku tetap bermuara pada orang-orang yang sama.

Elegi Akhir Pekan

Akhir pekan, layaknya lolipop: manis. Setidaknya, banyak hal yang jauh-jauh hari direncanakan di hari lolipop itu. Misalnya, berlibur ke rumah nenek, ikut ibu berbelanja di pasar, atau pergi ke toko buku dengan ayah. Manis, bukan. Intinya, hari itu adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu.

Hm, agaknya hari lolipop kini hanya milik kanak-kanak. Sebab, orang dewasa selalu menghitung manisnya hari dengan takaran-takaran. Beberapa menakar dengan uang, beberapa yang lain menakar dengan peluang. Lalu, hilanglah kemanisan hari itu dari kehidupan orang dewasa.

Rindu (ku)

Terkadang rinduku terlalu dalam, seperti bebintangan yang selalu mendamba kelam. Rinduku begitu rusuh, membuat semuanya menjadi kisruh. Rinduku gelisah, seperti kering yang menanti basah. Jika begini terus-terusan, aku takut menjadi payah. Beri aku celah. Atau sedikit waktu untuk rebah. Biar kutemukan di mana sejatinya muaraku berpasrah. Menentukan arah, bukan mencari salah.

 

Bisu

Percakapan-percakapan adalah bibir bagi tubuh kasih kita. Dia mengucap apa yang semestinya kusampaikan sebagai bagian dari keseharian. Sementara yang tak pernah terucap, adalah kegelisahan rinduku padamu. Ia bisu.

Jarak

Seorang teman pernah berkata padaku, “Jarak membuat cinta menjadi semu.” Mungkin, karena dia sudah terlalu lama berpisah jarak dengan kekasihnya. Berpisah jarak tak selamanya membuat sepasang kekasih berjarak, bukan begitu? Terkadang, jaraklah yang menguatkan hasrat untuk lebih erat mendekap cinta. Jarak yang memahamkan makna dari memupuk rindu. Dan, jarak juga yang menuntun mulut untuk terus membisik doa.

Bagaimana dengan kita, Kekasihku?

Pergi (lagi)

Semua berlalu begitu cepat, dalam hitungan hari yang terus mengerucut hingga sisa hitungan jam saja. Semua perantau paham, bagaimana rasanya meninggalkan kampung halaman. Tapi, beginilah hidup: kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Hati selalu tentram di rumah orang tua, di tanah kelahiran. Tapi, katak dalam tempurung pun pasti ingin keluar melihat dunia. Terlalu mudah hidup jika hanya merasa yang nyaman-nyaman saja. Terkadang kita butuh jatuh untuk tahu bagaimana nikmatnya berdiri. Pun kita butuh salah untuk tahu bagaimana nikmatnya belajar. Ya. Seperti katanya, “Kamu salah, lalu seolah kamu ingin salahmu itu dibenarkan. Kamu sesali masa lalumu, kamu salahkan dirimu sendiri. Bukan, bukan begitu. Kamu salah, lalu kamu menyadari kesalahanmu. Selanjutnya kamu berjanji tidak mengulanginya dan mau belajar dari kesalahan itu. Itu yang benar.” Ah, sering pergi pun nyatanya belum bisa membuatku cukup bijak dan dewasa.