Selamat Datang di Kolam ikanasinn

Layaknya Albus Dumbledore yang menuang isi pikirannya pada pensieve, saya pun ingin menuangkan ingatan saya pada blog ini. Sekedar untuk mengarsip kenangan.

Saya selalu mengagumi kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Saya sering membayangkan, Pram mengelus lembut kening saya, sembari berucap, “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Dan, saya tersenyum, merasa seluruh alam mendukung pekerjaan mulia ini, belajar menulis, belajar mencipta keabadian.

Iklan

Menyimpan Rapi, Menata Kembali

Gerimis di sore yang manis.

Aku kembali mengingat, waktu itu pernah kulangitkan doa-doa. Banyak doa. Terlampau banyak. Pikirku, tak apa. Tuhan Maha Mendengar. Tuhan tak pernah bosan bahkan, mendengar doa-doa yang terus saja kuulang. Kuulang, karena aku terlalu takut doa-doa itu tak Ia kabulkan.

Doa-doa melangit, seperti balon-balon gas, warna-warni, terbang ke udara.
Doa-doa melangit. Hatiku sempit.

Gerimis di sore yang manis.

Kepalaku semakin penuh sesak oleh harapan-harapan. Lebih sesak lagi oleh besarnya keinginan agar doa-doaku cepat terkabul. Penuh. Penuh. Penuh. Duarrr!  Balon itu meletus. Pusing kepalaku.

Pusing. Pusing. Pusing. Lama. Dan, sampai pada penemuan brilian: Kuncinya hanya menyimpan rapi, menata kembali.

Balon kembali kutiup, dengan harapan baru, dengan kekuatan baru. Bahwa, tak selamanya harapan terkabul. Tapi, satu pengingatku: harapan harus selalu tumbuh.

 

Anak Wadonku

“Naisya . . .”

            Bulan masih saja menggantung di kegelapan malam. Kali ini tampak cantik, satu per empat lingkaran. Sementara itu, aku masih saja menggantung pada perenungan malamku. Aku selalu menyukai masa dimana aku bisa melakukan perenungan pada malam-malam yang syahdu, lho seperti malam ini. Malam syahdu bagiku adalah suatu malam dengan sedikit saja cahaya, remang-remang. Tentu saja dengan tidak banyak suara sliweran kendaraan memenuhi atmosfer. Lalu pada malam syahdu itu, udara malam yang kuhirup adalah udara tersegar yang ada di muka bumi. Udara yang mampu membuat bulu-bulu hidungku bergidik kedinginan dan melewati seluruh tenggorokan dengan lancar sampai ke paru-paru, nyes!

            Sebenarnya sudah lama aku punya rutinitas seperti malam ini. Hanya sekedar menenangkan pikiran sambil beberapa kali mengepulkan asap rokok dari bibir hitamku. Sebenarnya sudah berkali-kali juga Dokter Amalia melarangku melakukan hal-hal yang demikian, tapi toh dokter cantik itu tidak tahu. Baca lebih lanjut

Wasiat Beringin Tua

“Hidupku terancam, mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku. Aku memang hidup di garis bawah, garis hina, tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana!”

            Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu, hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut, daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun, kering. Baca lebih lanjut

Mencintai Bidadariku, seperti Mencintai Tetesan Embun di Kala Senja

Mentari pagi mulai menampakkan kegagahannnya. Sinarnya menembus relung kecil kegundahan, menghangatkan hati yang tak henti menangis semalaman, memberikan suntikan kedamaian di jiwa anak kecil yang masih menikmati untaian mimpi itu. Anak kecil ini bukan seorang gelandangan yang tak memiliki rumah tinggal, dia juga bukan seorang anak buangan. Entah angin apa yang membawanya sampai harus tertidur lelap di emperan kios.  Tidurnya damai, beralas beberapa lembar kardus yang dipungut dari tempat sampah yang tegak berdiri di balik punggungnya. Jika dilihat dari postur tubuh dan raut wajahnya, sangat tak pantas jika anak semanis itu harus hidup di jalanan. Baca lebih lanjut

Cerita Senja

Semburat senja masih menggantung di ujung barat daya langit. Warnanya yang jingga menyilaukan setiap mata yang ingin menikmati keindahan langit sore itu. Samar-samar celoteh burung terdengar, sepertinya mereka sibuk mencari tempat peristirahatan sebelum gelap tiba, atau bisa jadi itu nyanyian kemenangan mereka sebagai pertanda habisnya hari.

Aku masih terus mengayuh sepedaku menyusuri jalanan kota sore itu, sambil sesekali kuusap peluh yang menetes dari balik jilbabku. Aku selalu mengagumi nuansa senja, berlayar bersama sepedaku menikmati kecantikan langit dengan alunan orkestra burung-burung yang sibuk terbang kesana-kemari. Begitulah setiap sore aku pulang kuliah menyusuri sepanjang jalan yang ramai dengan kendaraan, juga meriah oleh kerlap-kerlip lampu kota. Baca lebih lanjut

Jangan Lelah dalam Penantian

Sebenarnya, aku tidak menghendaki jeda ini. Pun, tidak ingin semua berjalan melambat seperti penantian yang semakin pekat. Aku percaya bahwa aku cukup kuat untuk berdiri pada posisi dan situasi yang tak kuingini. Toh, semuanya sama: pengabdian. Hanya saja, terkadang hati bergejolak untuk memuntahkan ingin.

Semoga Tuhan memberiku anugerah kuat. Sampai tiba saatnya bintang-bintang kehidupanku bersinar cemerlang. Bukankah terkadang bintang pun butuh gelap untuk tetap bersinar?

Sekali lagi, jangan lelah dalam penantian.​